banjir

Read more: http://oktriblogger.blogspot.com/2013/01/cara-membuat-efek-banjir-di-blog.html#ixzz2RYWLmHpL

Minggu, 31 Maret 2013

Tari Legong Jobog



A.  Latar Belakang
Bali adalah sebuah Pulau di Indonesia yang terletak di antara Pulau Jawa dan Pulau Lombok dengan Ibukota Provinsinya ialah Denpasar. Mayoritas penduduk Bali adalah pemeluk agama Hindu. Di dunia, Bali terkenal sebagai tujuan pariwisata dengan keunikan berbagai hasil seni-budaya, berupa tarian. Tari Bali merupakan suatu cabang seni pertunjukan yang mengandung serta dijiwai oleh nilai budaya Hindu – Bali. Dilihat dari fungsinya dalam aspek kehidupan ritual dan sosial masyarakat setempat, Tari Bali secara umum dapat digolongkan menjadi dua yaitu 1.Seni upacara atau seni wali dan bebali, 2. Seni tontonan/hiburan atau balih – balihan. Pakar seni tari Bali I Made Bandem pada awal tahun 1980-an pernah menggolongkan tari-tarian Bali tersebut antara lain yang tergolong ke dalam wali misalnya Berutuk, Sanghyang Dedari, Rejang dan Baris Gede, bebali antara lain ialah Gambuh, Topeng Pajegan, dan Wayang Wong, sedangkan balih-balihan antara lain ialah Legong, Parwa, Arja, Prembon dan Joged, serta berbagai koreografi tari modern lainnya.
Kesenian tari bagi masyarakat Bali memang tak bisa dipisahkan. Tarian Bali, seperti Legong, Janger, Baris, Kecak, adalah tarian yang disakralkan dan mengalami masa jaya pada tahun 1930. Adapun pertunjukan Tari Tradisional Bali terutama di daerah Ubud diadakan berbagai macam tarian Bali dari berbagai sanggar tari, biasanya tarian yang populer dikalangan para wisatawan antara lain yaitu tari Legong, tari Kecak, tari Barong dan lain-lain. Tari Legong yang menjadi salah satu tarian favorit yang ditonton oleh para wisatawan baik wisatawan Nusantara maupun wisatawan mancanegara merupakan tarian yang dikembangkan di Keraton atau Istana-istana di Bali. Tari Legong biasanya ditarikan oleh dua orang gadis dan tari Legong sendiri mempunyai banyak ragam atau macamnya. Dalam pembahasan kali ini akan diuraikan beberapa hal mengenai perbedaan ragam gerak Tari Legong Jobog. 

B.  Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas, maka dapat dirumuskan beberapa peemasalahan sebagai berikut:
1.   Bagaimana sejarah Tari Legong?
2.   Apa saja struktur dan perbedaan ragam gerak Tari Legong Jobog


1. Sejarah Tari Legong
Tidak pernah ada yang menjumpai kata “legong” dalam catatan-catatan kuno. Diduga kata legong berasal dari kata “leg” yang artinya gerak tari yang luwes atau lentur yang merupakan ciri pokok tari Legong. Adapun “gong” yang berarti instrument pengiringnya artinya gamelan. Legong dengan demikian mengandung arti gerak tari yang terikat (terutama aksentuasinya) oleh gamelan yang mengiringinya. Gamelan yang dipakai mengiringi tari legong dinamakan Gamelan Semar Pagulingan. Legong yang kita ketahui sekarang merupakan percampuran dari elemen-elemen tari yang berbeda sekali jenisnya. Elemen tersebut berasal dari kebudayaan Hindu Jawa yang dituangkan dalam bentuk tari klasik yang disebut Gambuh. Gambuh merupakan tipe drama tari yang berasal dari pra-Islam Jawa dan mungkin sudah dikenal di Bali sejak permulaan abad ke-15.
Pada mulanya tari Legong merupakan kesenian feudal dari kaum triwangsa di Bali. Legong dalam inspirasi dan kreasinya sama dengan Gambuh, yaitu suatu kesenian dari istana. Kesenian ini berkembang sesuai dengan pola kebangsawanan dan mendapat dorongan dari para raja zaman dahulu. Para petugas kerajaan memeriksa ke desa-desa untuk mendapatkan anak-anak perempuan yang berbakat untuk dilatih dan dijadikan penari Legong. Proses terjadinya tari Legong sudah merupakan konsep dalam seni pertunjukan yang mampu berkreasi terutama seniman-seniman, mengambil elemen dari kerakyatan yang dikembangkannya menjadi kesenian yang tinggi mutunya.
Sejak abad ke-19 tampak ada pergeseran: Legong berpindah dari istana ke desa. Tari Legong bukan lagi merupakan kesenian istana karena pengaruh istana makin lama semakin melemah dan Tari Legong menjadi milik masyarakat umum. Wanita-wanita yang pernah mengalami latihan di istana kembali ke Desa dan mengajarkan tari Legong kepada generasi berikutnya. Banyak sakeha (kelompok) Legong terbentuk, khususnya di daerah Gianyar dang Badung. Guru-guru tari Legong juga banyak bermunculan, khususnya dari Desa Saba, Bedulu, Peliatan, Klandis, dan Sukawati. Murid-murid didatangkan dari seluruh Bali untuk mempelajari tari Legong, kemudian mengembangkannya kembali ke desa-desa. Legong menjadi bagian utama setiap upacara odalan di desa-desa.
Sampai sejauh ini, belum dapat dipastikan kapan sesungguhnya Tari Legong diciptakan. Lakon yang biasa dipakai dalam Legong kebayakan bersumber pada:
1.      cerita Malat khususnya kisah Prabu Jobog,
2.      cerita Kuntir dan Jobog (kisah Subali Sugriwa),
3.      Legod Bawa (kisah Brahma Wisnu tatkala mencari ujung dan pangkal Lingganya Siwa),
4.      Kuntul (kisah burung),
5.      Sudarsana (semacam Calonarang),
6.      Palayon,
7.      Chandrakanta dan lain sebagainya.

2. Struktur dan perbedaan ragam gerak Tari Legong Jobog
a.       Struktur Tari Legong Jobog
Apabila dilihat dari struktur tari, Tari Legong ini mempunyai struktur gerak yaitu Pengawit, Pengawak, Pengecet, Pengrangrang, Pesiat, Pekaad. Untuk lebih mempahaminya dapat diuraikan strukturnya sebagai berikut:
·      Pengawit
·      Duduk bersimpuh dengan posisi agem kanan, nyalud, agem kanan, ulap-ulap, nyalud, agem kiri, ulap-ulap, nyalud, agem kanan, ulap-ulap,nyalud, agem kanan, sledet
·      Ngeliput, nyalud, nyakup bawa, sledet ( diulang 3x)
·      Berdiri, tayung kiri-kanan, ngeliput, tanjek panjang
·      Ngeliput, ngeraja singa

·      Pengawak
·         Ngeraja singa kanan, ngelukun ngaraja singa, kengser kanan-kiri, ngubit kanan, agem kanan, ngubit kanan, rebah kanan-kiri, engsog kanan-kiri, ngeraja singa
·         Ngeraja singa kiri, ngelukun ngeraja singa, kengser kiri-kanan, ngubit kiri, agem kiri. Ngubit kiri, rebah kiri-kanan, engsog kiri-kanan, ngeraja singa
·         Ngeraja singa kanan, ngelukun ngaraja singa, kengser kanan-kiri, tayung kanan (mentang laras), hadap depan milpil, nyalud, ngegol kanan, ngeliput, nyalud, ngegol kiri, kedepan tanjek panjang.

·      Pengecet
·         Gelatik nuut papah ke kanan – kiri, nyalud, dara kepek, ngelo, ngepik, piles dorong, putar.
·         Gelatik nuut papah ke kiri – kanan, nyalud, dara kepek, ngelo, ngepik, piles dorong, putar.
·         Ngegol kanan – kiri, ngeregah, ngumbang, nyeregseg, ngelo, ngangsel, nyeregseg, ngangsel hadap belakang.
·         Gelatik nuut papah ke kanan – kiri, nyalud, dara kepek, ngelo, ngepik, piles dorong, putar.
·         Gelatik nuut papah ke kiri – kanan, nyalud, dara kepek, ngelo, ngepik, piles dorong, putar.
·         Ngegol kanan – kiri, ngeregah, ngumbang, nyeregseg, ngelo, ngangsel, nyeregseg, ngangsel hadap belakang.
·      Pengetog
·         Hadap depan, agem kanan, agem kanan – kiri tinggi, rebah kanan kiri, nyeregseg posisi tangan agem, ngangsel, rebah kanan – kiri posisi tangan panjang, ngeregah, ngeteb, jalan,
·      Pesiat
·          ngangsel, puter agem kanan, ulap-ulap, nuding,  jalan, agem kiri, ulap-ulap,nuding, jalan, nyeregseg, ngangsel metayungan, ambil kayu, agem kanan tinggi, rebah kanan – kiri, jalan,
·         gerakan saling pukul 3x, berputar, rebah kanan kiri, yang kalah bersimpuh dibawah, yang menang di atas, metayungan, gerakan memukul, bangun berputar (diulang 2x)
·         bangun, berputar, gerakan menggigit, jatuh berdua taruh kayu.
·         Jalan, ambil kipas, mekelies, puter ke belakang

·      Pekaad
·      Hadap belakang, angsel, ngeseh, tanjek ngndang, ngeliput hadap depan, piles kanan, ngeliput, tanjek panjang, agem sledet 4x, agem kanan – kiri, ngeliput, tanjek panjang, sledet 4x, agem kiri – kanan, ngeliput, tanjek panjang, sledet 4x,
·      Ngenjet kiri – kanan, kecos, ngeliput, tanjek panjang, agem sledet 4x,
·      Ngeliput sambil turun ambil slendang (diulang 2x), ngeliput, hadap belakang, ngeliput, sogok kanan, tanjek ngandang.

b.      Perbedaan ragam gerak Tari Legong Jobog
Dalam Tari Legong Jobog ini terdapat beberapa perbedaan dalam ragam geraknya. Perbedaan itu diakibatkan dari beberapa faktor misalnya pada pengajar satu dengan yang lainnya mempunyai stail-stail tersendiri. Dalam hal ini akan dipaparkan mengenai gerak Tari Legong Jobog yang terdapat di Institut Seni Indonesia Denpasar dengan tarian yang terdapat di SMK N 3 Sukawati. Sesungguhnya perbedaannya tidak banyak sekali hanya saja terdapat beberapa gerak yang memberikan ciri khas dari pengajar. Perbedaannya sebagai berikut:
Tari Legong Jobog di Institut Seni Indonesia Denpasar
Tari Legong Jobog di SMK N 3 Sukawati
-diawal sudah langsung memakai kipas
-belum memakai kipas
-nyakup bawa
- tidak nyakup bawa, agem kanan, tangan kiri mapah biu diatas lutut
-pada gerak pengawak saat gerakan rebah kanan dan kiri posisi tangan agem biasa
- pada gerak pengawak saat gerakan rebah kanan dan kiri posisi tangan agem namun satu tangan posisi panjang
-pada saat selesai pesiat, terdapat gerakan mekelies
- pada saat selesai pesiat, terdapat gerakan ulap-ulap
-pada saat pekaad, gerakan agem kanan pertama mau pindah agem kiri dan sebaliknya, posisi tangan pendek
pada saat pekaad, gerakan agem kanan pertama mau pindah agem kiri dan sebaliknya, posisi tangan panjang
-pada pekaad, gerakan ngenjet dimulai ke kiri
-pada pekaad, gerakan ngenjet dimulai ke kanan


c.       Busana Tari Legong Jobog
Perkembangan busana memberikan ciri khas dari tarian tersebut. Busana dibuat semenarik mungkin agar dapat memikat daya tarik penonton. Busana khas legong yang berwarna cerah (merah, hijau, ungu) dengan lukisan daun-daun. Tata busana pada Tari Legong Jobog adalah sebagai berikut:
F Kamen berwarna hijau dengan hiasan prada
Pada Tari Legong Jobog menggunakan kamen berwarna hijau dengan hiasan prada. Cara penggunaan pada Tari Legong Jobog sama dengan penggunaan kamen pada umumnya.
F Baju lengan panjang berwarna hijau dengan hiasan prada
Pada Tari Legong Jobog menggunakan baju panjang seperti pada Tari Condong, hanya saja terdapat perbedaan warna dari kedua tarian tersebut. Tari ini menggunakan baju yang berwarna hijau dengan motif tertentu dan  hiasan prada.
F Sabuk  berwarna kuning dengan hiasan prada
Penggunaan sabuk pada Tari Legong Jobog, sama dengan penggunaan sabuk pada tari – tarian pada umumnya yaitu dililitkan pada badan penari. Biasanya penggunaan sabuk ini dimulai dari bawah (pinggang) sampai atas (dada).
F Ampok – ampok
Hiasan dari kulit yang diprada dan dipasang di pinggang. Ampok – ampok yang dipakai dalam Tari Legong Jobog sama dengan ampok – ampok yang dipakai pada tari – tarian lainnya.
F Lamak
Hiasan penutup badan bagian depan yang dipasang bergantungan dari atas susu hingga di atas lutut. Lamak pada Tari Legong Jobog sama halnya dengan lamak pada Tari Condong. Cara penggunaannya pun sama, yang membedakan kedua lamak tersebut adalah motif yang dipakai.
F Simping
Hiasan yang terbuat dari kulit. Penggunaan simping pada Tari Legong Jobog sama halnya dengan penggunaannya pada Tari Trunajaya, yaitu dipasang untuk menutupi bahu kanan dan kiri.

F Tutup dada
Hiasan penutup bagian dada. Tutup dada dipasang diatas simping, yang berfungsi untuk mengikat simping agar tidak mudah lepas.
F Badong
Perhiasan leher atau penutup bahu yang dibuat dari kulit. Dalam tarian ini menggunakan badong lancip dan penggunaannya sama dengan tari lainnya yaitu dipasang pada leher penari.
F Gelang Kana Atas
Hiasan penutup ujung baju pada lengan atas. Pemakaian gelang kana ini dipasang pada bagian atas tangan (lengan)
F Gelang Kana Bawah
Hiasan penutup ujung baju pada pergelangan tangan. Pemakaian gelang kana ini dipasang pada bagian bawah tangan (pergelangan tangan)
F Gelungan
Hiasan kepala yang dibuat dari kulit ditata dan dipulas dengan cat emas ( prada). Gelungan pada Tari Legong Jobog sama dengan Tari Legong lainnya.
F Properti
Properti yang dipakai dalam tarian ini “kepet”, yang sekarang ini sering disebut dengan “kipas”

d.      Tata Rias Tari Legong Jobog
Tata rias pada dasarnya diperlukan untuk memberikan tekanan atau aksentuasi bentuk dan garis-garis muka sesuai dengan karakter tarian. Pada Tari Pendet ini menggunakan tata rias panggung dan rias tari putri halus. Tata rias yang dipakai dibuat dalam bentuk baik garis alis, eye shadow, cundang dan caling kidang lebih ramping dan lembut. Warna bedak legih dominan kuning langsat, merah pipi lembut menyatu dengan bedak, eye shadow cerah dengan kombinasi warna menyesuaikan dengan warna kostum, lipstick warna merah cerah dalam penggambaran karakter putri halus yang anggun, lembut dan bijaksana.


e.       Iringan Tari Legong Jobog
Iringan dalam tari bukan hanya sekedar iringan, tetapi merupakan patrner tari yang tidak boleh ditinggalkan, sehingga harus betul – betul digarap agar tercapai keharmonisan. Pada Tari Legong Jobog menggunakan gamelan Semar Pegulingan sebagai iringannya.  


Kesimpulan:
Diduga kata legong berasal dari kata “leg” yang artinya gerak tari yang luwes atau lentur yang merupakan ciri pokok tari Legong. Adapun “gong” yang berarti instrument pengiringnya artinya gamelan. Legong dengan demikian mengandung arti gerak tari yang terikat (terutama aksentuasinya) oleh gamelan yang mengiringinya. Gamelan yang dipakai mengiringi tari legong dinamakan Gamelan Semar Pagulingan. Tari Legong  mempunyai struktur gerak yaitu Pengawit, Pengawak, Pengecet, Pengetog, Pesiat, Pekaad.
Ragam gerak pada tari Legong Jobog terdapat perbedaan antara pengajar satu dengan pengajar lainnya. Perbedaan itu karena pengajar mempunyai ciri khas tersendiri yang nantinya mampu memberikan warna berbeda kepada masyarakat yang melihat dan mempelajarinya. Sesungguhnya perbedaannya tidak terlalu banyak sekali. Ada beberapa gerak yang diciptakan sebagai variasi dalam tarian ini, perbedaan tersebut masih mengikuti pakem-pakem tarian Legong yang sudah ada dan tidak mjenyimpang dari aturan-aturan yang sudah ditentukan oleh seniman tua dulu.


DAFTAR PUSTAKA

Bandem, I M. l996. Etnologi Tari Bali.Denpasar

Dibia, I Wayan. 1999. “Selayang Pandang Seni Pertunjukan Bali”. Masyarakat Seni Pertunjukan Bali.

Kusuma Arini, A.A.Ayu. Buku Ajar “Literatur Tari”, Fakultas Seni Pertunjukan Institut Seni Indonesia Denpasar (2010): 55

Cerita, I Nyoman dkk. 2009. Buku Ajar “Analisis Tari dan Gerak”, Fakultas Seni Pertunjukan Institut Seni Indonesia Denpasar

Kusuma Arini, A.A.Ayu. 2011. “Legong Peliatan Pionir Promosi Kesenian Bali yang tetap Eksis”, Institut Seni Indonesia Denpasar





Tidak ada komentar:

Poskan Komentar