banjir

Read more: http://oktriblogger.blogspot.com/2013/01/cara-membuat-efek-banjir-di-blog.html#ixzz2RYWLmHpL

Kamis, 01 Maret 2012

Trunajaya

                                                                               BAB I
                                                                     PENDAHULUAN
1.1    Latar Belakang

Tari Bali merupakan suatu cabang seni pertunjukan yang mengandung serta dijiwai oleh nilai budaya Hindu – Bali. Dilihat dari fungsinya dalam aspek kehidupan ritual dan sosial masyarakat setempat, Tari Bali secara umum dapat digolongkan menjadi dua yaitu 1.Seni upacara atau seni wali dan bebali, 2. Seni tontonan/hiburan atau balih – balihan. Namun dalam pembahasan kali ini akan menguraikan tentang salah satu tari yang disuguhkan sebagai hiburan atau tontonan.
Di dalam masyarakat Bali hingga kini terdapat berbagai jenis tari hiburan. Tari hiburan yang dikenal oleh kalangan masyarakat Bali sangat luas. Seni tari hiburan/tontonan dalam kurun waktu yang cukup panjang, telah mengalami berbagai perubahan yang menyangkut isi dan bentuk. Tata penyajian kesenian itu sendiri, terjadi karena para seniman secara sadar, kreatif, dan terus menerus memasukkan ide – ide baru kedalam kesenian mereka. Dengan terciptanya ide – ide baru tersebut maka muncullah beberapa tari yang diciptakan menggunakan iringan Gong Kebyar yang biasa disebut dengan tari kakebyaran, salah satunya adalah Tari Trunajaya.

1.2    Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas, maka dapat dirumuskan beberapa peemasalahan sebagai berikut:
1.    Bagaimana Definisi Tari Kakebyaran dan perkembangan Tari Trunajaya?
2.    Bagaimana Deskripsi dan Analisis  Tari Trunajaya?



1.3    Tujuan
Tujuan dari pembuatan paper ini adalah
1.    Untuk mengetahui definisi tari kakebyaran serta  perkembangan Tari Trunajaya
2.    Untuk menderkripsikan dan menganalisa Tari Trunajaya sebagai tari kakebyaran.

1.4    Manfaat
1.    Kita dapat mengetahui definisi tari kakebyaran serta perkembangan Tari Trunajaya
2.    Kita dapat mengetahui secara terperinci tentang bagaimana bentuk serta isi dan   faktor pendukung Tari Trunajaya.



                                                                               BAB II
                                                                      PEMBAHASAN
2.1.     Definisi Tari Kakebyaran dan perkembangan Tari Terunajaya
Kakebyaran berasal dari kata kebyar yang mengandung banyak pengertian dan merupakan rangkaina kata dari bahasa Bali yaitu ka-kebyar-an, yang berasal dari kata “kebyar”, mendapat awalan “ka” dan akhiran “an” yang berarti “berhubungan dengan”. Dengan demikian, kekebyaran dimaksud berhubungan dengan kebyar.
Tari kekebyaran meliputi berbagai jenis tarian tunggal, duet, trio, kelompok, dan sendratari. Tari – tarian ini dikelompokkan sebagai kekebyaran bukan hanya karena diiringi dengan gamelan Gong Kebyar, namun karena gerakannya yang dinamis dan bernafas kebyar. Secara umum tari kekebyaran dikelompokkan menjadi tari – tarian lepas dan sendratari. Yang pertama meliputi tari – tarian yang berdurasi pentas relatif pendek, tidak berkaitan antara yang satu dengan lainnya, baik yang bercerita maupun tanpa cerita. Yang kedua meliputi sejumlah seni drama tari, tarian berlakon, yang berdurasi pentas relatif lebih panjang, dan dimainkan oleh banyak orang. (Dibia, 1999 : 46)
Tentang kebyar, Moerdowo menyatakan bahwa perkembangan baru dalam seni sudah dimulai sejak tahun 1920, dengan diciptakannya Gong Kebyar. Irama Gong Kebyar lebih dinamis dan sudah mulai bercorak modern. Kemudian I Maria dari Tabanan menciptakan suatu koreografi yang disebut tarian Kebyar. Tarian ini sangat digemari masyarakat, terutama golongan muda dan menyebar keseluruh Bali dengan cepat (Moerdowo,1985:201). Munculnya Gong Kebyar di Kabupaten Buleleng sangat digemari dan mendapat perhatian khusus dari pemerintah Kolonial Belanda. Gong Kebyar yang sangat digemari masyarakat luas telah mendorong munculnya berbagai bentuk tari – tarian baru yang mempergunakan gamelan ini sebagai musik iringan tari. Contohnya seperti munculnya tari Trunajaya yang diciptakan oleh Pan Wandres, kemudian disempurnakan kembali oleh I Gede Manik dari Kabupaten Buleleng (Dibia, 1999: 51). Sebagian masyarakat ada yang menyebutkan “Tari Terunajaya atau Tari Trunajaya”. Namun dikalangan masyarakat umumnya menyebut “Tari Trunajaya”. Tari yang menggambarkan emosional seorang pemuda ini ditata sangat dinamis dan ekspresif, sesuai dengan karakteristik Gamelan Gong Kebyar tersebut. Kesuksesan Tari Trunajaya yang mampu memikat hati penonton diikuti oleh munculnya beberapa tari baru yang juga diiringi Gamelan Gong Kebyar, seperti Tari Margapati dan Tari Panji Semirang yang diciptakan oleh I Nyoman Kaler pada tahun 1942. Kedua tarian ini merupakan tari bebancihan, yakni tari putra halus yang ditarikan oleh penari perempuan. (Bandem, 1996: 56). Munculnya tari Trunajaya ini mendapat sambutan luar biasa dari masyarakat maupun wisatawan. Hal itu dibuktikan bahwa sejak awal perkembangannya hingga kini tari ini tetap digemari oleh masyarakat maupun wisatawan manca negara.

2.2.    Deskripsi dan Analisis Tari Trunajaya
Dalam Paper ini akan diuraikan lebih terperinci  tentang Tari Trunajaya.
a)    Sinopsis Tari Trunajaya
Tari Trunajaya adalah suatu tarian yang berasal dari daerah Bali Utara (Buleleng) yang melukiskan gerak – gerak seorang pemuda yang menginjak dewasa, sangat emosional, tingkah serta ulahnya senantiasa untuk untuk menarik / memikat hati wanita. Tari Trunajaya termasuk tari putra keras yang biasa ditarikan oleh penari putri. Tari ini semula diciptakan Pan Wandres dalam bentuk kebyar Legong dan kemudian disempurnakan oleh I Gede Manik.

b)    Struktur dan Ragam Gerak Tari Trunajaya
PEPESON
    Berjalan kedepan dengan tangan kiri memegang kancut, tangan kanan sirang susu dan memegang kipas
    Agem pokok Trunajaya
(tangan kiri mapah biu dengan jari – jari ditekuk kebawah, dan tangan kanan sirang susu)
    Sledet capung
    Ngoyod, sambil tangan kanan nabdab gelung
    Agem kanan dan agem kiri
    Nyerigsig, nyegut (tangan kiri sirang susu dan tangan kanan nepuk dada), sogok kanan-kiri, ngeseh, tayung kanan
    Nyegut kiri, (tangan kanan sirang susu dan tangan kiri nepuk dada), sogok kiri-kanan,ngeseh, tayung kanan
    Agem kanan, ngelayak
    Tanjek 2x dengan posisi tangan agem pokok
    Agem kanan, sledet
    Agem kiri (tangan kiri sirang susu, tangan kanan nepuk dada), sledet
    Agem kanan (tangan kanan sirang susu, tangan kiri nepuk dada), sledet
    Maju kaki kiri-kanan, putar penuh
    Ngeliput, agem kanan, ngeseh, sledet (2x)
    Ngenjet, nyeregseg, ngepik (arah pojok kanan)
    Gerakan tangan ke kanan-kiri diikuti mata nyeledet dan hentakan kaki, tangan ngeliput
    Ngangsel, ngeseh, ngepik, ngocok langse
    Ngegol diikiti dengan mengambil kancut serta kipas ngeliput
    Tayog
    Agem kanan, kaki diangkat bergantian
    Milpil ke kanan dan ke kiri
    Buang kipas

PENGAWAK
    Agem kiri Trunajaya
    Nyerigsig ke kanan, pindah agem kanan
    Tayog kanan kiri, ngenjet
    Nyeregseg kanan kiri, ngumbang
    Bersimpuh
    Tangan ke kanan- ke kiri dengan kipas ngeliput, sledet (3x)

PENGECET
    Berdiri sambil ngeliput, piles kiri-kanan, agem kanan
    Berjalan ke depan,tutup kipas,putar sambil membuka kipas
    Ambil kancut, kipas ngeliput, ngegol, sledet, mekecos, agem kanan, sledet ( 3x)

PEKAAD
    Ngenjet, nyeregseg kanan – kiri
    Ngumbang sambil memegang kancut
    Agem kanan, sambil memegang kancut

c)    Penari Tari Trunajaya
Tari Trunajaya termasuk “tari babancihan” merupakan istilah yang dipakai menyebutkan sekelompok tari – tarian Bali yang memiliki karakter antara laki – laki dan perempuan. Disamping itu mengandung ungkapan kelaki – lakian dengan posisi kaki berjarak dua genggam serta gerak tari dinamis dan gagah. Bentuk tari babancihan  yang diciptakan sebagai tarian tunggal ini dapat memperluas wawasan kaum perempuan dalam memilih tarian yang akan dipertunjukkan sesuai dengan tuntutan gender, dalam arti bahwa penari perempuan tidak hanya terbatas membawakan peran jenis perempuan saja, namun peran lawan jenisnya pun cocok pula dibawakannya. Seiring perkembangannya, Tari Trunajaya dapat juga ditarikan oleh lebih dari satu orang penari. Misalnya dalam suatu perlombaan atau acara ngayah di pura.

d)    Musik Iringan Tari Trunajaya
Iringan dalam tari bukan hanya sekedar iringan, tetapi merupakan patrner tari yang tidak boleh ditinggalkan, sehingga harus betul – betul digarap agar tercapai keharmonisan. Tari Trunajaya biasanya diiringi oleh gamelan Gong Kebyar. Lamanya waktu sangat berpengaruh pada lamanya iringan musik. Tari Trunajaya dapat ditarikan dengan waktu yang pendek dan panjang. Waktu yang di gunakan dalam sajian Tari Trunajaya pendek kurang lebih 11 menit dari awal mulainya Tari Trunajaya sampai dengan berakhirnya. Waktu yang berkaitan dengan tempo (cepat dan lambat ) dibuat bervariasi, artinya tempo iringan disesuaikan dengan tempo gerak atau sebaliknya. Tempo meliputi tempo lambat, sedang, dan tempo cepat.

e)    Tata Busana dan Properti Tari Trunajaya
Tata Busana sangat memberikan ciri khas bagi tarian tersebut. Busana di buat semenarik mungkin agar dapat memikat daya tarik penonton. Jenis tarian ini menggunakan busana adat laki-laki inovatif dalam bentuk udeng – udengan  sehingga wajah penari nampak bagus. Properti yang digunakan dalam tarian ini adalah “kepet”, yang sekarang ini sering disebut dengan “kipas”. 


Tata busana pada Tari Trunajaya adalah sebagai berikut:
    Kamen/kancut berwarna unggu prada dengan motif wajik
     Cara penggunaan kamen pada Tari Trunajaya sama halnya seperti pemakaian kain bebancihan pada umumnya yaitu ada sisa kamen di sebelah kiri yang nantinya akan dipakai sebagai kancut.
    Baju panjang berwarna unggu prada dengan motif mas - masan
Baju pada Tari Trunajaya ini sebenarnya hampir sama dengan tari Legong Kuntul yaitu memakai warna unggu, namun perbedaannya terdapat pada motif. Pada Trunajaya memakai motif mas – masan, sedangkan pada Legong Kuntul memakai motif bun – bunan.
    Sabuk  berwarna kuning prada
Penggunaan sabuk pada Tari Trunajaya, sama dengan penggunaan sabuk pada tari – tarian pada umumnya, yaitu dililitkan pada badan penari. Biasanya penggunaan sabuk ini dimulai dari bawah (pinggang) sampai atas (dada).
    Memakai Ampok – ampok
Ampok – ampok yang dipakai dalam Tari Trunaja ini sama dengan ampok – ampok yang dipakai dalam tari – tarian lainnya. Ampok – ampok dipasang pada pinggang penari.
    Memakai simping kulit
Penggunaan simping pada Tari Trunajaya sama halnya dengan penggunaannya pada Tari Legong, yaitu dipasang untuk menutupi bahu kanan dan kiri.
    Tutup dada berwarna hitam
Tutup dada dipasang diatas simping, yang berfungsi untuk mengikat simping agar tidak lepas.
    Memakai badong
Dalam tarian ini menggunakan badong lancip dan penggunaannya sama dengan tari lainnya yaitu dipasang pada leher penari.
    Memakai gelang kana atas
Pemakaian gelang kana ini dipasang pada bagian atas tangan (lengan)
    Memakai gelang kana bawah
Pemakaian gelang kana ini dipasang pada bagian bawah tangan (pergelangan tangan)


    Udeng
Pemakaian udeng pada Tari Trunajaya berbeda dari tari – tarian lainnya. Pemakaiannya dikemas sedemikian rupa oleh penggarap sehingga mempunyai ciri khas tersendiri.

f)    Tata Rias Tari Trunajaya
Tata rias pada dasarnya diperlukan untuk memberikan tekanan atau aksentuasi bentuk dan garis-garis muka sesuai dengan karakter tarian. Tari Trunajaya ini menggunakan rias wajah putra halus. Pada Tari Trunajaya ini sudah menggunakan rias pentas atau panggung dengan menggunakan eyeshadow berwarna kuning, merah dan biru serta pemakaian alis yang agak tinggi dari riasan tari putri serta menggunakan taling kidang.

Hiasan kepala yang dipakai dalam Tari Trunajaya ini adalah
    Memakai Udeng
    Memakai garuda mungkur (dibagian belakang)
    Memakai satu bunga sandat
    Memakai bunga kuping (bunga merah dan bunga putih)
    Menggunakan rumbing

g)    Tempat Pementasan
Tari Trunajaya termasuk kedalam jenis tari hiburan sehingga dapat dipentaskan dimana saja. Misalnya di halaman pura, di lapangan atau panggung tertutup/terbuka, dan di tempat – tempat lainnya.


                                                                             BAB III
                                                                          PENUTUP
Kesimpulan:
    Tari Trunajaya merupakan tari kakebyaran yang diciptakan oleh Pan Wandres, kemudian disempurnakan kembali oleh I Gede Manik dari Kabupaten Buleleng. Unsur – unsur gerak tari babancihan banyak mengambil unsur – unsur tari pegambuhan seperti gerak nepuk dada, nabdab gelung, gandang-gandang, ngunda, dan gerak lainnya. Ciri khas dari tarian ini adalah agem dengan posisi tangan kiri mapah biu dan tangan kanan sirang susu (agem pokok Trunajaya) . Sledet yang digunakan dalam Tari Trunajaya adalah sledet capung, dapat juga dilihat dari segi tempo iringannya yang cepat. Selain itu ciri khas lainnya juga dapat kita jumpai pada kostum/busana tari ini, pemakaian udeng yang dikemas sedemikian rupa oleh penggarap sehingga mampu memberikan warna tersendiri dari tari – tarian lainnya.







                                                                 DAFTAR PUSTAKA

Dibia, I Wayan. 1999. “Selayang Pandang Seni Pertunjukan Bali”. Masyarakat Seni Pertunjukan Indonesia
Ayu Kusuma Arini, A.A.. 2004. “Tari Kakebyaran Ciptaan I Nyoman Kaler”.
http://www.babadbali.com/seni/tari/tl-trunajaya.htm

http://www.bali-dance.com/indonesia/Sada_Budaya.html

http://www.berita.assyams.com/gambar/sejarah-tari-bali-truna-jaya

http://www.wordpress.com

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar